Salah satu daerah yang kini menjadi rumah bagi orang Banjar (tentunya selain Bumi Lambung Mangkurat, Kalsel) adalah Tembilahan, kota Ibukota Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Kepulauan Riau. Memang pada dasarnya masih banyak daerah-daerah lain yang berpenghuni orang Banjar. Di antaranya seperti di Kuala Tungkal (Kab. Tanjung Jabung, Jambi), Kab. Deli Serdang (Sumut), Kab. Serdang Bedagai (Sumut), Kab. Langkat (Sumut). Atau di daerah lain seperti Manado, Makassar, Mataram, Pontianak, Bukittinggi, dan masih banyak lagi. Di Singapura dan Malaysia (khususnya Batu Pahat) pun juga ada. Pedatuan kita banyak menyebar di berbagai daerah.
Tembilahan adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Selain itu ada kecamatan-kecamatan yang lain, seperti Batang Tuaka, Concong, Enok, Gaung, Gaung Anak Serka, Kateman, Kemuning, Keritang, Kuala Indragiri, Mandah, Pelangiran, Pulau Burung, Reteh, sungai Batang, Tanah Merah, Teluk Balengkong, Tembilahan Hulu, dan Tempuling (semuanya berjumlah 20).
Tembilahan berbatasan dengan kecamatan Batang Tuaka (sebelah utara), Kuala Indragiri dan Tanah Merah (sebelah timur), Enok (sebelah selatan), dan Tembilahan Hulu dan Batang Tuaka (barat). Luas wilayah Tembilahan adalah 297,62 km², terdiri dari 6 kelurahan. Adapun jumlah penduduknya 69.505 jiwa (tahun 2010) dengan kepadatan penduduk adalah 352/km (tahun 2008 adalah 61.603 jiwa).
Penduduk Kecamatan Tembilahan terdiri dari berbagai suku bangsa yaitu suku Banjar, suku Bugis, suku Melayu, suku Minang, suku Jawa, suku Batak serta warga negara keturunan Tionghoa. Dalam hal ini, aku akan banyak bercerita tentang dingsanak –baca suku Banjar- yang ada di sana.
Dari sumber yang ada, terdapat tiga teori bermigrasinyabubuhan Banjar ke Tanah Melayu, 1) Permintaan Sultan Deli untuk bercocok tanam di rawa yang hanya bisa urang Banjar melakukannya, 2) Prahara di Kerajaan Banjar yang menyebabkan hijrahnya beberapa keluarga Kerajaan Banjar ke Tanah Melayu, 3) Penyebaran agama Islam, buktinya menjadi Mufti di Kerajaan Indragiri. Sementara itu ada teori lain (cirita turun-temurun) yang mengatakan bahwa migrasi Banjar dengan maksud merantau ke Tanah Malaka kemudian dihadang badai dan akhirnya terdampar di Tembilahan (Ibnu Sina, 2008)
Budayawan Kalsel, Drs.Syamsiar Seman ketika ditanya ANTARA, di Banjarmasin, Senin mengakui bahwa keberadaan komunitas suku Banjar di Inhil sudah begitu lama, diperkirakan gelombang transmigrasi suku Banjar ke pesisir Sumatera itu sebagian besar terjadi sebelum perang dunia kedua. Sebagian besar warga suku Banjar Inhil sekrang ini, tidak tahu dan tidak pernah mengenal tanah leluluhur mereka di Kalsel yang merupakan wilayah komunitas terbesar suku Banjar. Yang membuktikan mereka sekarang adalah anak cucu dari keturunan orang Banjar perantau dulu.
Apabila dirunut ke belakang, maka bisa jadi masyarakat Tembilahan saat ini adalah generasi ke-5 dari migrasi pertama yang datang ke sana. Seiring dengan waktu, hampir 60-70% daerah ini adalah keturunan Orang Banjar. Bahasa Banjar juga dijadikan bahasa pengantar di sana. Tidak peduli ia bukan dari suku Banjar atau tidak. Dialek yang digunakan adalah bahasa Banjar daerah Pahuluan. Maka jangan heran apabila berkunjung ke pasar, seluruh aktivitas di sana menggunakan bahasa Banjar. Kita akan merasa seperti di banua sorang. Begitulah sedikit cerita tentang dingsanak kita yang ada di seberang sana. Aku berharap suatu saat aku bisa berkunjung ke sana.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar