Hardiansyah Inhil

Hardiansyah Inhil
www.hardiansyahinhil.blogspot.com

Selasa, 06 Juni 2017

MENGUNGKAP #URANG #BANJAR DI INDRAGIRI HILIR RIAU



Salah satu daerah yang kini menjadi rumah bagi orang Banjar (tentunya selain Bumi Lambung Mangkurat, Kalsel) adalah Tembilahan, kota Ibukota Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Kepulauan Riau. Memang pada dasarnya masih banyak daerah-daerah lain yang berpenghuni orang Banjar. Di antaranya seperti di Kuala Tungkal (Kab. Tanjung Jabung, Jambi), Kab. Deli Serdang (Sumut), Kab. Serdang Bedagai  (Sumut), Kab. Langkat (Sumut). Atau di daerah lain seperti Manado, Makassar, Mataram, Pontianak, Bukittinggi, dan masih banyak lagi. Di Singapura dan Malaysia (khususnya Batu Pahat) pun juga ada. Pedatuan kita banyak menyebar di berbagai daerah.
Tembilahan adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Selain itu ada kecamatan-kecamatan yang lain, seperti Batang Tuaka, Concong, Enok, Gaung, Gaung Anak Serka, Kateman, Kemuning, Keritang, Kuala Indragiri, Mandah, Pelangiran, Pulau Burung, Reteh, sungai Batang, Tanah Merah, Teluk Balengkong, Tembilahan Hulu, dan Tempuling (semuanya berjumlah 20).
Tembilahan berbatasan dengan kecamatan Batang Tuaka (sebelah utara), Kuala Indragiri dan Tanah Merah (sebelah timur), Enok (sebelah selatan), dan Tembilahan Hulu dan Batang Tuaka (barat). Luas wilayah Tembilahan adalah 297,62 km², terdiri dari 6 kelurahan. Adapun jumlah penduduknya 69.505 jiwa (tahun 2010) dengan kepadatan penduduk adalah 352/km (tahun 2008 adalah 61.603 jiwa).
Penduduk Kecamatan Tembilahan terdiri dari berbagai suku bangsa yaitu suku Banjar, suku Bugis, suku Melayu, suku Minang, suku Jawa, suku Batak serta warga negara keturunan Tionghoa. Dalam hal ini, aku akan banyak bercerita tentang dingsanak –baca suku Banjar- yang ada di sana.
Dari sumber yang ada, terdapat tiga teori bermigrasinyabubuhan Banjar ke Tanah Melayu, 1) Permintaan Sultan Deli untuk bercocok tanam di rawa yang hanya bisa urang Banjar melakukannya, 2) Prahara di Kerajaan Banjar yang menyebabkan hijrahnya beberapa keluarga Kerajaan Banjar ke Tanah Melayu, 3) Penyebaran agama Islam, buktinya menjadi Mufti di Kerajaan Indragiri. Sementara itu ada teori lain (cirita turun-temurun) yang mengatakan bahwa migrasi Banjar dengan maksud merantau ke Tanah Malaka kemudian dihadang badai dan akhirnya terdampar di Tembilahan (Ibnu Sina, 2008)
Budayawan Kalsel, Drs.Syamsiar Seman ketika ditanya ANTARA, di Banjarmasin, Senin mengakui bahwa keberadaan komunitas suku Banjar di Inhil sudah begitu lama, diperkirakan gelombang transmigrasi suku Banjar ke pesisir Sumatera itu sebagian besar terjadi sebelum perang dunia kedua. Sebagian besar warga suku Banjar Inhil sekrang ini, tidak tahu dan tidak pernah mengenal tanah leluluhur mereka di Kalsel yang merupakan wilayah komunitas terbesar suku Banjar. Yang membuktikan mereka sekarang adalah anak cucu dari keturunan orang Banjar perantau dulu.
Apabila dirunut ke belakang, maka bisa jadi masyarakat Tembilahan saat ini adalah generasi ke-5 dari migrasi pertama yang datang ke sana. Seiring dengan waktu, hampir 60-70% daerah ini adalah keturunan Orang Banjar. Bahasa Banjar juga dijadikan bahasa pengantar di sana. Tidak peduli ia bukan dari suku Banjar atau tidak. Dialek yang digunakan adalah bahasa Banjar daerah Pahuluan. Maka jangan heran apabila berkunjung ke pasar, seluruh aktivitas di sana menggunakan bahasa Banjar. Kita akan merasa seperti di banua sorang. Begitulah sedikit cerita tentang dingsanak kita yang ada di seberang sana. Aku berharap suatu saat aku bisa berkunjung ke sana.


Hadits dan Sains Jelaskan Tanda Kiamat dari Jazirah Arab


Peneliti menemukan fakta-fakta ilmiah dalam beberapa dekade terakhir pada abad ke-20. Peneliti menemukan bahwa dahulu Arab memiliki padang rumput dan sungai, berdasarkan penelitian mengenai iklim, kemudian membuktikan bahwa Arab akan memiliki sungai dan padang rumput sekali lagi.
Dalam buku ‘Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah’ dijelaskan, Bumi melewati sejarah panjang perubahan siklus iklim yang bisa terjadi secara bertahap maupun tiba-tiba. Sebagai contoh, lebih dari satu setengah abad lalu, para ilmuwan menyadari bahwa Bumi melewati periode glasial yang menutupi tanah, mulai dari salah satu kutub atau keduanya menuju khatulistiwa.
Ilmuwan mengembangkan beberapa teori untuk menjelaskan bagaimana Bumi mengalami siklus glasial. Teori ini didasarkan pada hipotesis bahwa radiasi matahari menurun secara periodik karena perubahan bentuk orbit Bumi mengelilingi matahari dan variasi di tingkat kemiringan sumbunya.
Selama periode glasial yang terjadi di darat, wilayah yang terletak di dekat lintang yang lebih tinggi berubah menjadi gurun es yang tandus di mana tanaman mati dan hewan melarikan diri. Sementara itu, daerah yang terletak di sabuk gurun, yakni dari Mauritania di barat hingga Asia Tengah di timur, berubah menjadi daerah dengan curah hujan tinggi.
Selama siklus hujan ini, semua lembah kering yang tersebar di padang pasir, terbentuk. Dahulu, mereka adalah sungai-sungai yang mengalir.
Kemudian, menjadi kering dengan penurunan kuantitas air. Lembah kering tersebut tidak akan pernah bisa terbentuk oleh apa pun, kecuali air yang mengalir.
Menurut penelitian, para ilmuwan menemukan bahwa Arab mengalami tujuh ‘periode hujan’ selama 30 ribu tahun terakhir, dengan delapan periode kekeringan berada di antaranya. Saat ini adalah ‘periode hujan’ kedelapan.
Kajian mengenai iklim mengacu pada fakta bahwa Arab akan memasuki ‘periode hujan’ baru. Pada awal mulanya akan ditandai dengan munculnya es salju di bagian utara Bumi ke arah selatan, yang disertai dengan penurunan suhu yang luar biasa selama musim dingin.
Selama musim hujan, Arab ditutupi dengan padang rumput hijau dan mengalir sungai-sungai, daerah cekungan berubah menjadi danau. Demikian juga dengan tanah di sana, yang semula gersang menjadi banyak kehidupan dan makhluk, persis seperti yang Rasulullah gambarkan.
Fakta-fakta ditemukan dalam beberapa dekade terakhir, sedangkan Nabi telah menyebutkan ini sejak sekira 1.400 tahun lalu. “Hari akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai,” HR Muslim.
Ini membuktikan bahwa ia adalah seorang nabi dan utusan yang benar. Beliau berhubungan dengan Allah Yang Mahakuasa melalui Wahyu Ilahi dan beliau diberi petunjuk langsung dari Sang Pencipta langit dan Bumi.