Hardiansyah Inhil

Hardiansyah Inhil
www.hardiansyahinhil.blogspot.com

Kamis, 24 April 2014




Waspadai Nyamuk: Lindungi Diri Kita
Jakarta, 4 April 2014
Kalimat Waspadai Nyamuk: Lindungi Diri Kita bukan hanya sekedar slogan. Ini benar-benar sebuah imbauan yang harus diwaspadai. Sebanyak 5 dari 6 penyakit tular vektor disebabkan oleh nyamuk. Oleh karena itu, tepat bila tema nasional yang dipilih untuk Hari Kesehatan Sedunia HKS 2014 di Indonesia adalah Waspadai Nyamuk: Lindungi Diri Kita.
Hari Kesehatan Sedunia (HKS) diperingati setiap tanggal 7 April. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan tanggal berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization. Tahun 2014, peringatan HKS 2014 di tingkat global, mengangkat tema Vector-borne Diseases. Tema ini relevan dengan upaya yang dilakukan Pemerintah bersama masyarakat untuk mengendalikan berbagai Penyakit Tular Vektor di Indonesia, seperti: Malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles; Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti; Chikungunya ditularkan oleh nyamuk aedes aegypt; Filariasis ditularkan oleh nyamuk culex/anopheles/mansonia/armigeres; Japanese Encepahlitis disebabkan oleh culex tritaeniorhynchus, dan Pes ditularkan oleh pinjal tikus.
Peringatan HKS 2014 merupakan momentum yang sangat tepat untuk memperkuat upaya kita dalam mensosialisasikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, utamanya yang terkait dengan peningkatan kesehatan lingkungan untuk mencegah munculnya perindukan vektor penyakit dan penularan serta penyebaran Penyakit Tular Vektor.
Oleh karena itu, gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh Indonesia yang akan digalakkan dalam peringatan HKS 2014 merupakan upaya konkrit di lapangan untuk mensukseskan Pengendalian Penyakit Tular Vektor di Tanah Air kita.
Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2014.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.iddan email kontak@depkes.go.id

Sabtu, 19 April 2014

URANG BANJAR DI INHIL, RIAU.
Urang Banjar di Tembilahan, Bumi Sri Gemilang
Konon sudah lebih dari 5 generasi urang banjar yang madam, migrasi, ’terdampar’ di Tembilahan. Sebenarnya bukan hanya di Tembilahan sebaran warga banjar di nusantara. Paling tidak di Sumatera ada di Tembilahan (Kab. Indragiri Hilir), Kuala Tungkal (Kab. Tanjung Jabung – Jambi), juga di Kab. Deli Serdang – Kab. Serdang Bedagai – Kab. Langkat di Sumut., bahkan di Singapura dan Malaysia (khususnya Batu Pahat). Inilah jejak urang Banjar di Tanah Melayu.
Pada tulisan yang lain ulun ceritakan jua bubuhan kampung Banjar di Manado, Makassar, Mataram, Pontianak, Bukittinggi dan Singapura.
Saat ulun berkesempatan ke Tembilahan dengan rombongan Gubernur dan Lembaga Budaya Banjar pada pemberian gelar adat TNB (Tutuha Nang Batuah) untuk Gubernur Riau Rusli Zainal dan Bupati Inhil Indera Muhlis Adenan, saat itulah ’ainul yaqiin (melihat langsung) kehidupan bubuhan kita dibanua urang. Menurut Bupati Inhil tidak kurang 60% penduduk Inhil adalah urang Banjar. Bukan tanpa sebab fakta ini terjadi, karena betapa kagetnyaulun melihat kondisi alam dan kehidupan yang sangat mirip dengan banua kita.
Sebut saja sungai Indragiri yang mirip sungai Barito, Jalan tembus yang mirip Anjir kita, rawa dan gambutnya yang seakan ulun berada di hulu sungai, kehidupan bubuhan panyiuran yang sangat bersahaja, dll.
Saat mencoba mengelilingi pasar Tembilahan dan kaget bukan kepalang, ternyata bahasa pengantara dan komunikasi di pasar itu bahasa Banjar barataan. Biar lain urang Banjar gin tatap bisa berbahasa Banjar. Saat mencoba mendekat ke tumpukan durian dan mencoba menawar, eh.. ternyata bubuhan Banjar Hulu Sungai, tepatnya bubuhan Alabio. ”bubuhanmu urang Banjar jua kah, jar din..” Inggih jar ulun, tapi kami ni sahibar mandangar kisah haja banua kita, kami kada biasa ka banjar, ujar seorang yang mengaku lahir dan besar di tembilahan. Padatuan haja nang bakisah banua Banjar. Kami ini turunan ke 4 sudah di tambilahan, kadada baduit handak manjinguki banua banjarKena lah jar ulun kita minta bantuan Gubernur Riau supaya mainjami Riau Airlines gasan bubuhan pian bulikan, manjanaki banua datu nini pian barataan. Takurihing sampai ka talinga sidinnya.
Jejak Banjar ini tercantum juga dalam prasasti Kerajaan Indragiri yang menjabat sebagi Mufti Kerajaan Selama 27 tahun, beliau lah Syeikh Abdurrahman Siddiq al Banjari atau lebih terkenal Guru Sapat.
Ada 3 teori migrasi urang Banjar di Tanah Melayu, yaitu 1. Permintaan Sultan Deli untuk bercocok tanam di rawa yang hanya bisa urang Banjar melakukannya. 2. Prahara di Kerajaan Banjar yang menyebabkan hijrahnya beberapa keluarga Kerajaan Banjar ke Tanah Melayu. 3. Penyebaran agama Islam, buktinya menjadi Mufti di Kerajaan Indragiri. Sementara teori atau cerita turun temurun bahwa migrasi Banjar dengan maksud merantau ke Tanah Malaka kemudian dihadang badai dan akhirnya terdampar di Tembilahan.